Back

Four Seasons Resort Bali at Sayan melanjutkan peremajaan dengan pengalaman kuliner yang baru

   
March 18, 2021,
Bali at Sayan, Indonesia

Four Seasons Resort Bali di Sayan semakin meningkatkan kualitas kesehatan dan kulinernya yang luas dengan memperkenalkan makanan inspirasi Sattvic di restoran puncak pohonnya, Ayung Terrace.

Memanfaatkan beragam talenta dari para ahli, menu kesehatan baru ini merupakan kolaborasi antara Executive Sous Chef Wayan Sutariawan (Suta) dan tim The Sacred River Spa, yang Manajernya Faraaz Tanveer dianugerahi Asia's Best Spa Manager di acara 2020 Hall of Wellness Awards.

Resor ini juga meluncurkan petualangan piknik baru yang dipandu oleh juru masak yang memasak langsung di tempat yang khusus dan lembah nan indah, yang hanya dapat diakses oleh tamu resor.

“Penawaran baru ini mencerminkan komitmen berkelanjutan dari tim kami untuk berinovasi dan peremajaan pengalaman baru bagi para tamu,” kata manajer resor Gianni Costa. “Energi alami dari lembah Sayan menginspirasi kami setiap hari, dan merangkul tamu yang bergabung dalam paket spa populer kami, program “Guided by Gratitude Retreat” selama tiga malam, atau bagi mereka yang datang hanya untuk makan siang atau makan malam yang luar biasa di restoran Ayung Terrace.”

Berada di lembah Sayan, 60 kamar villa ini terkenal dengan pengalaman unik seperti Sacred Nap, Sayan Valley Biathlon, Day in the Life of a Rice Farmer, dan Balinese Chef's Table di sekolah memasak Sokasi. Menu yang terinspirasi dari Sattvic akan melengkapi kegiatan ini dan meningkatkan pilihan menu vegetarian yang tersedia bagi para tamu. Menu ini tersedia untuk sarapan, makan siang dan makan malam di restoran Ayung Terrace bersama dengan menu ala carte Indonesia modern, serta in-room dining.

Berdasar pada Ayurveda, filosofi Sattvic kuno telah diakui untuk meningkatkan umur panjang, kekebalan tubuh dan kejernihan mental melalui pola makan yang sehat, perhatian penuh dan olahraga. Karakteristik utama dari masakan Sattvic adalah tidak adanya campuran bawang merah dan bawang putih, yang tidak diizinkan karena diyakini dapat merangsang nafsu makan dan sistem saraf pusat. Hal ini memberikan tantangan baru bagi koki Suta, tetapi ia mampu menjalankan tugas tersebut – dengan pengalaman 20 tahun dalam karirnya sebagai koki termasuk lima tahun di luar negeri untuk mendapatkan pengetahuan dalam masakan India, Timur Tengah, dan Eropa.

“Bagi seorang chef, memasak tanpa bawang merah dan bawang putih untuk menunjang cita rasanya sungguh menantang dan menarik,” kata Suta, seorang warga Bali yang sangat ingin melestarikan resep 'yang terlupakan' di tanah airnya. “Saya pikir, 'Wah, bagaimana kita bisa membuat saus tomat untuk pasta?' Tapi kami bermain-main dengan rempah-rempah yang berbeda dan menemukan keseimbangan rasa yang tepat antara bahan-bahan musiman dan rempah-rempah segar. Saya bahkan memiliki tamu yang memesan dari menu Sattvic yang bukan seorang vegetarian atau mengikuti diet apa pun – dan mereka menyukainya. Tantangan saya berikutnya adalah untuk mencoba citarasa sattvic pada masakan Indonesia, saya sangat menantikannya. "

Untuk memaksimalkan rasa dan nutrisi, Suta membuat sebagian besar hidangan dari nol menggunakan buah dan sayuran yang ditanam secara organik; rempah segar dan kering; keju premium; bumbu rempah lokal yang menenangkan perut seperti kunyit, jahe, kapulaga dan jintan; gandum, kacang-kacangan dan biji-bijian. Hasilnya menggembirakan sekaligus menghibur – seolah lembah Sayan berada di atas sebuah piring.

Sorotan dari menu baru yakni meliputi:

  • Masala dosa - Sarapan favorit # 1. Olahan kacang-kacangan (miju-miju) olahan sendiri dan crepes nasi yang membutuhkan waktu tiga hari untuk dibuat, dan diisi dengan kentang, jahe, tomat, jinten, ketumbar dan kunyit, dan ditaburi dengan keju mozzarella dan disajikan dengan bumbu India.
  • Sattvic taco - Tortilla dengan bahan dasar bit buatan sendiri yang diisi dengan tahu orak-arik berbumbu kari, ketumbar, jinten, kunyit dan bayam, yang disajikan dengan tomat, saus salsa tomat, alpukat tumbuk, dan jeruk nipis segar.
  • Beetroot and goat’s cheese salad – Umbi bit disajikan dua cara (dipanggang dan diasinkan) dengan bubur keju kambing, irisan salak segar, raspberry utuh, serpihan almond, dan bubuk zaitun kering.
  • Mushroom and pearl barley risotto - Kaldu sayuran buatan Suta dicampur dengan jamur porcini untuk menambah citarasa. Risotto ditaburi dengan jamur liar lokal yang dipanggang dan parmesan espuma untuk hasil akhir yang lembut.
  • Roasted pumpkin with cauliflower tabbouleh - “Ini salah satu favorit saya,” kata Suta. “Parutan kembang kol dengan peterseli dan mint sangat menyegarkan, sementara ada sentuhan rasa asam dari buah delima dan rasa lemon dalam campuran ricotta, krim keju dan kulit lemon. Aroma manis berasal dari bubur paprika merah, dan kerenyahan dari kerupuk roti. "
  • Spinach ricotta pastizzi - Kue panggang buatan sendiri yang dalam proses pengolahannya dilipat 10 kali, diistirahatkan dua kali, dan diregangkan dan digulung berkali-kali untuk menghasilkan lapisan dasar yang renyah dan menyenangkan. Ini diisi dengan bayam dan ricotta, disajikan dengan yogurt alami dan saus keju feta, dan dihiasi dengan tomat cincang dan pistachio.
  • Homemade semolina spinach fettucine with veggie ‘meat balls’ and roasted tomato sauce - “Tanpa bawang putih dan bawang merah, merupakan hal yang cukup menarik untuk membuat saus tomat,” kata Suta. “Kami menggunakan tomat segar yang disangrai lalu disaring, agar warnanya tidak terlalu merah, sangat murni. Sebagai pengganti bawang putih, kami menggunakan seledri untuk menghasilkan citarasa yang kuat, dan untuk menggantikan rasa manis dari bawang, kami menggunakan wortel. Bakso merupakan campuran umbi bit panggang, buncis, jamur lokal liar, ketumbar, dan bubuk jintan. Ini merupakan hidangan yang sangat sederhana, tapi sangat enak. "